Sepatu oh Sepatu…

sepatu Sepatu..sepatu, riwayatmu kini…

Ada pelajaran penting bagi para pemimpin di dunia ini. Kalau bicara di depan orang mesti pake pelindung kepala. Pasalnya siapa tahu ada Sepatu nyasar ke kepala. Jangan-jangan nanti ada aturan, semua orang harus melepaskan sepatunya pada saat wawancara!

noshoesSeperti berita yang dilansir OkeZOne [http://news.okezone.com] – Insiden pelemparan sepatu oleh wartawan Irak kepada Presiden Amerika Serikat, George W Bush saat jumpa pers di Bagdad, Irak, menjadi pelajaran penting bagi setiap presiden di dunia. Demikian disampaikan Ketua MPR Hidayat Nurwahid kepada okezone di Jakarta, Rabu (17/12/2008). “Ini kritik terbuka bagi presiden manapun agar tidak membuat kebijakan yang merusak negara lain. Karena nanti akan terjadi hal yang tidak terduga,”  Hidayat menambahkan insiden tersebut terjadi karena George Walker Bush mengeluarkan kebijakan yang tidak pro kemanusiaan di Irak.
“Dia bikin kebijakan yang menghancurkan negara orang, ribuan orang mati terkait perang di Irak,”  sambungnya.

Bisa-bisa sepatu milik si pelempar (Muntazar Al-Zaidi, wartawan TV Al-Bagdaddiyah Irak)  ini masuk World Guiness Book of Records sebagai sepatu termahal, karena Sepatu no. 10 ini sudah ditawar oleh Pengusaha dari Irak seharga US$10 Juta. Wow! Sepatu saya saja yang no. 43, harganya paling mahal Rp. 250 Ribu, apa mesti saya lemparkan ke Bush juga gitu? Tapi… Berani nggak ya? 🙂

Omong-omong tentang sepatu ini dia :sepatu
Sejarah Sang Alas Kaki…
By Ferry Ardiansyah Posted in Clear Feature

Sejarah sepatu dimulai hampir bersamaan dengan sejarah peradaban manusia. Luciana Boccard dalam bukunya Party Shoes (1993) menjelaskan bahwa manusia sudah memakai sepatu dari kulit yang lembut sejak seribu tahun sebelum Masehi.

Hal itu membuat berbagai kisah legenda masyarakat dari berbagai budaya tentang sepatu bermunculan. Sebut saja cerita Kucing Bersepatu Lars dan Cinderella yang bisa menikah dengan sang pangeran ‘gara-gara’ sepatu kacanya. Atau ragam kisah budaya seperti di China, saat Dinasti Song (960 M) berkuasa, ada kebiasaan untuk mengikat kaki bayi perempuan dengan sepatu khusus sehingga ketika dewasa nanti diharapakan kaki sang wanita seperti kuncup bunga lotus.

Sementara umat Kristiani di Amerika dan Eropa sampai sekarang memiliki kebiasaan untuk meletakkan sepatu di depan pintu atau di dekat perapian pada malam Natal yang kemudian berubah jadi menggantungkan kaos kaki. Demikian juga pada saat kekuasaan Dinasti Tudor abad ke-15 di Inggris, penilaian orang terhadap sepatu begitu tinggi sehingga bisa menandakan status sosial seseorang.

Sepatu pertama sebenarnya mulai diciptakan sekitar tahun 1600-1200 SM di Mesopotamia. Sepatu pada saat itu digunakan penduduk yang tinggal di daerah pegunungan di perbatasan Iran. Tentu saja sepatu pertama ini mempunyai bentuk yang sederhana, serupa alas kaki yang dipakai suku Indian.

Perkembangan sepatu yang lebih modis mulai diketemukan di kebudayaan Mesir.

Pada saat itu ratu Mesir Nefertiti dan Cleopatra sudah memakai sandal yang diukir dan diberi perhiasan. Kemudian abad peperangan yang melanda peradaban manusia pada saat itu membuat sepatu tidak hanya terbuat dari kulit, tetapi juga dari kain sutra, kertas kaca, tali rafia, tali rami dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, sepatu semakin mengandung simbol dan status. Sepatu mengalami banyak perubahan terutama dari segi ukuran, bentuk dan jenisnya. Beragam desain menarik juga dialami, sebagian besar perubahan tersebut di alami oleh sepatu bagi kaum wanita. Dimulai dari sepatu wanita hak tinggi yang banyak digunakan pada era 1500an, pada jaman ini sepatu runcing (sabot) yang dikombinasi kaus rajutan knitted house dari Spanyol juga banyak digemari. Ratu Elizabeth, Inggris termasuk salah satu yang menyukai sepatu jenis ini.

Pada abad 19, fungsi mempengaruhi bentuk alas kaki, di mana sepatu dibuat mendekati bentuk kaki dan disesuaikan dengan aktivitas pemakai. Sepatu dengan platform tebal yang mengingatkan romantisme kebebasan menjadi pertimbangan sehingga terjadi reduksi pernik dan dibuat massal.

Nah, abad 20 merupakan jaman keemasan bagi alas kaki, sekali lagi terutama untuk para wanita.

Pada abad ini, alas kaki menjadi pusat penampilan. Berbagai model mulai dari retro, model lama sampai masa kini rupanya masih dijadikan pijakan para pembuat sepatu. Dengan sentuhan kekinian dipadu kreativitas, model-model baru terus lahir dalam nuansa segar. Dan sejarah itupun terus berlanjut….

Shoe Story:
1800
Sepatu bersol karet pertama dibuat dan dinamakan “Plimsolls.”

1892
Goodyear dan perusahaan sepatu karet divisi dari US Rubber Company, memulai memproduksi sepatu karet dan kanvas dalam nama yang berbeda dan pada akhirnya ditentukan bahwa Keds adalah nama yang terbaik.

1908
Marquis M. Converse mendirikan Converse shoe company, yang merevolusi permainan bola basket lebih dari seabad dan menjadi ikon Amerika.

1917
Sepatu keds adalah sepatu atletik pertama yang diproduksi secara massal. Kemudian sepatu ini nantinya akan disebut sneakers oleh Henry Nelson McKinney, seorang agen periklanan untuk N.W.

Ayer & Son, karena solnya lebih halus dan tidak menimbulkan suara decitan pada kondisi tertentu.

1917
Converse mengeluarkan sepatu basket pertama, the Converse All Star.

1920
Adi Dassler, pendiri Adidas, mulai memproduksi sepatu olahraga buatan tangan di kamar mandi ibunya, tanpa bantuan alat-alat listrik.

1923
The All Star memberikan kesempatan pada Chuck Taylor All Star, untuk membuat sepatu bermerek Chucks, Cons, Connies. Sepatu ini terjual lebih dari 744 juta di 144 negara.

1924
Adi dan Rudolph Dassler, dengan bantuan 50 anggota keluarganya, mendaftarkan bisnisnya dengan nama Gebr der Dassler Schuhfabrik di Herzogenaurach, Jerman. Ini menjadi awal berdirinya Adidas seperti sekarang.

1931
Adidas memproduksi sepatu tenis pertamanya.

1935
Converse merilis the Jack Purcell dengan logo “Smile” di bagian depan. Sepatu itu menjadi sangat terkenal di Hollywood dan di kalangan anak-anak nakal, namun pada tahun 1930, ketika badminton dan tenis menjadi terkenal, Jack Purcell hanya tinggal sejarah.

1948
Puma Schuhfabrik Rudolf Dassler didirikan dan dunia dikenalkan pada PUMA Atom, sepatu sepak bola pertama PUMA digunakan oleh tim sepakbola Jerman Barat.

1950’s
• Sneakers menjadi sepatu pilihan di mana-mana dan menjadi simbol dari pemberontakan. Murah dan mudah diperoleh oleh seluruh anak muda di seluruh dunia. Di U.S., cheerleaders menggunakan sweaters, rok mini dan kaos kaki pendek dengan sepatu dan atasan canvas (atau keds). The fashion secara resmi diperkenalkan ketika James Dean difoto menggunakan celana jinsnya dan sneakers putih.
• Sepatu bertumit tinggi alias “stiletto” menjadi tren di awal 1950-an.

1962
Phil Knight dan Bill Bowerman melucurkan sepatu atletik berteknologi tinggi (di tahunnya) dengan Blue Ribbon Sports (BRS) dan pada tahun 1968 seiring dengan design dan teknologinya yang baru, mengganti nama mereka menjadi Nike.

1970
• Platform shoes dengan tumit setinggi 2-5 inci menjadi incaran pria dan wanita.
• Era 70-an juga merupakan awal bagi sepatu model bakiak menjadi populer.

1972
Logo Adidas mengalami perubahan dengan memakai konsep “Trefoil Logo” yakni logo visual tiga daun kerangkai.

1979
Nike menciptakan seri Nike Air yang pertama. Lalu pada tahun 1982 dirilis Air Force One, dan meluncurkan si legendaris Nike Air Jordan (1985)–yang merupakan sebuah achievement bagi the rookie of Chicago Bulls’, Michael Jordan hingga Nike Air Max pada tahun 1987.

1990
Awal era ini diramaikan dengan jenis sepatu bersol rata, berwarna dan persegi. Namun, lagi-lagi platform shoes kembali berjaya.

1995
Museum sepatu Bata di Toronto, Kanada resmi dibuka pada bulan Mei.

1996
Adidas melakukan modernisasi dengan konsep “We knew then-we know now” yang menggambarkan kesuksesan masa lalu dan kejayaan masa kini.

1998-2001
Sepatu lars menjadi salah satu simbol paling populer dari Orde Baru yang militeristik.

2006-2008
Model wedges shoes (bertumit sebiji) yang cocok dengan banyak jenis outfit, warp dan strappy shoes menjadi incaran wanita.

sepatuwanita31

Sumber :
http://www.clearafterhours.com/2008/10/sejarah-sang-alas-kaki.php

About Rudi Kurniawan

Knowledge is power, but character is more.
This entry was posted in Lain-lain. Bookmark the permalink.

6 Responses to Sepatu oh Sepatu…

  1. Didin says:

    sepatu no.1 didunia ini bukan saja mengajak kemana pemilknya jalan-jalan tp disini sepatu lebih pintar nyasar ke kepala.
    Untung gak sama kakinya he3x🙂

    • Rudi Kurniawan says:

      Wehe..he.. Kadang saya punya masalah nih dengan sepatu yang suka “melenghir – wangi”. Kang Didin gaduh resepnya supaya ‘aromanya’ hilang???🙂

  2. LALA says:

    agh ntah apa aja yg kw bikin

    cam taex

    kebanyakan boker kw ya

  3. POOH says:

    Maksud Lala apa? Ini menghujat atau ngeledek… Berpelukan yuuuukkkkkk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s