Haji dan Qurban

78c550b3-ed3b-4a69-831c-e29fb5a7e638Seorang teman berseloroh. “Awas ya, ntar waktu penyebelihan hewan qurban jangan kemana-mana. Soalnya yang badannya gede-gede, bisa-bisa dijadikan qurban!”  Weleeh  :(

Saya jadi merenung juga. Kenapa ya dulu nabi Ibrahim as. diuji Allah SWT melalui anaknya nabi Ismail as. supaya disembelih dan dikurbankan. (Kebayang kalau peristiwa itu terjadi. Saya barangkali sudah dikurbankan juga oleh sang ayah. ) Syukurlah, ternyata Allah hanya menguji keimanannya. Ternyata Ibrahim lebih mencintai Allah daripada anaknya yang begitu didambakan dan disayanginya. Menurut riwayat, kurbannya digantikan oleh hewan. 

Saya sendiri, karena ketidak tahuan (dan dipengaruhi oleh para vegetarian), suka bertanya-tanya. Kenapa harus ada kurban (mengalirkan darah)? Sewaktu kecil, saya begitu takut dan ngeri melihat para penyembelih dengan goloknya yang tajam menyayat leher hewan yang dikurbankan. Dan belakangan saya mengetahui, hewan kurban sebaiknya disembelih oleh orang yang berkurban. Sebagai orang yang beragama dan beriman Islam, saya harus taat dan tunduk atas perintah-perintah dan hukum-hukumNya. Ibadah Qurban teryata mengandung simbol membunuh sifat kebinatangan yang ada pada diri manusia (faktanya manusia bisa lebih buas dan kejam melebihi sang binatang!) dan merupakan perwujudan ketaqwaan, keikhlasan dan ketaatan terhadap perintahNya. Dan kelak –insya Allah– pahala amalan itu akan menjemput kita kalau masuk Surga. Wallahu’alam Bishawab

Mengamati kejadian saat ini, saya masih melihat bahwa daging kurban dibagikan juga sama orang-orag yang mampu. Di jalan-jalan seputar kompleks kediaman saya, semerbak wangi daging yang di sate bakar. Malahan dulu saya masih ingat ketika menjadi panitia Qurban di SMA, karena ga punya ongkos untuk  naik andong, sebagai pengganti, si Emang nya diberi aja daging qurban. Intinya, everybody happy. Tapi omong-omong kok daging kurban lain ya rasanya ketika dimasak dan dimakan dengan yang di beli dari pasar?😉 Apa karena barokahnya atau karena gratisnya ya?😀

Selamat menunaikan ibadah qurban dan merayakan kemenangan para penjiarah di kota suci Mekkah pada hari Raya Idul Adha 1429 H. Semoga menjadi haji yang mabrur. Amin.

onta kambing sapi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Info  hakikat Qurban dari Pakarnya :

Rahasia Qurban

Oleh Amir Faishol Fath
http://www.pesantrenvirtual.com

Al-Qur’an menegaskan hakikat Qurban, melalui kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Isma’il tercinta dalam surat Al-Shafat, ayat : 102-109. Kisahnya begini; Nabi Ibrahim berkata kapada Nabi Ismail : “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?” Nabi Ismail menjawab seketika dengan tenang dan penuh keyakinan : “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu, kau akan mendapatkanku – insya Allah – termasuk orang-orang yang sabar”. Allah kemudian bercerita : “Tatkala keduanya telah berserah diri (tunduk pada perintah Allah) dan Ibrahim membaringkan anaknya (pelipsnya menimpel di atas tempat penyembelihan), Kami segera memanggil (dari arah gunung) : wahai Ibrahim, Sudah kau benarkan (dan kau laksanakan) apa yang kau lihat dalam mimpimu itu, sesungguhnya demikinlah Kami memeberi balasan (kepadamu) dan juga kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh (perintah penyembelihan ini) adalah benar-benar ujian (bagi Ibrahim, di mana dengannya terlihat dengan jelas siapa yang ikhlash dan siapa yang tidak). Dan kami segera menebus anak (yang akan disembelih itu) dengan seekor sembelihan yang besar. Pun Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Salam sejahtera (dari Kami) buat Ibrahim, dan sebutan yang baik baginya (dari setiap manusia)”.

 

Ada beberapa hal yang sangat menarik untuk kita garis-bawahi dari kisah di atas : Pertama, bahwa ajaran ber-qurban datangnya dari Allah SWT, sebuah ajaran yang agung, yang membuktikan kedekatan sang hamba kepada Rab-nya, sebuah proses pendakian yang suci menuju Allah Yang Maha Agung, Pencipta langit dan bumi, Pemilik alam semesta dan segala isinya. Itulah mengapa istilah yang dipakai adalah “qurban” yang maknanya berarti pendekatan.

Kedua, Apa yang biasa kita buktikan melalui kisah di atas bahwa berqurban merupakan salah satu proses pendekatan kepada Allah SWT?

Jawabannya :

  1. Kepribadian Nabi Ibrahim, yang demikian total menunjukkan ketaatannya kepada Allah. Tidak terlihat dalam sikapanya sebuah keraguan, atau keberatan. Begitu menerima perintah dari Allah untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail, – anak yang ditunggu-tunggu kelahirannya sekian lama sampai ia mencapai usia tua – Nabi Ibrahim langsung mendatangi Ismail dan menympaikan perintah tersebut. Padahal secara psikologis Nabi Ibrahim sungguh sangat membutuhkan seorang keuturunan. Bayangkan, di tengah pengembaraan yang jauh, di sebuah lembah padang sahara yang kering, tanpa pohonan dan tanaman, Nabi Ibrahim hidup. Ditambah lagi usianya yang memang sudah sangat mebutuhkan seorang anak muda untuk menopang ketidakmampuannya. Tapi lihatlah, totalitas penyerahan diri Nabi Ibrahim kepada Sang Pemilik Bumi dan langit.
  2. Kepribadian Nabi Ismail, yang benar-benar memhami keaguangan perintah Allah. Artinya bahwa perintah itu harus segera dilaksanakan. Tidak usah ditawar-tawar dan ditunda-tunda lagi. Seketika ia berserah diri dengan penuh kesabaran. Sungguh ungkapan Nabi Ismail dengan panggilan “yaa abati” mengekspresikan kecintaan nabi Ismail dan kedekatannya kepada sang ayah, pun juga kepasrahan totalnya terhadap perintah Allah, dimana dengan ungkapan itu tergambar dengan jelas bahwa ia tidak merasa kaget sama sekali. Melainkan langsung menerimanya dengan lapang dada dan penuh kepasrahan.
  3. Sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang tanpa banyak bicara dan diskusi dalam menerima “isyarat” yang terlihat dalam mimpinya “ru’ya”, di mana kaduanya langsung bergerak menuju tempat penyembelihan. Nabi Ismail langsung berbaring, meletakkan pelipisnya ke bumi. Nabi Ibrahim langsung bergerak untuk menyembelihnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengharukan. Dan dari peristiwa itu terlihat dengan jelas hakikat kepasrahan dan ketaatan yang hakiki dari kedua hamba tersebut, kepada Allah, Tuhannya. Allah seketika menyaksikan kesungguhan kedua hamba itu dalam mentaati perintah-Nya. Allah berfirman “qad saddaqta ru’ya”, kau telah membenarkan “ru’ya” itu (wahai Ibrahim), dan kau telah melaksanakannya. Allah seketika pula menggantikan Nabi Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Sebab yang paling utama dari hakikat qurban ini, adalah sejauh mana tingkat kepasrahan sang hamba kepada Allah SWT, dan sejauh mana tingkat ketaatannya kepada-Nya, sejauh mana tingkat ketabahannya dalam menjalani ajaran yang telah Allah tetapkan.

 

Ketiga, bahwa hakikat “qurban” merupakan salah satu ujian dari Allah, yang dengannya setiap mu’min bisa mengukur hakikat keimanannya, hakikat ketaatannya kepada perintah Allah, hakikat kedekatannya kepada Allah. Sungguh Allah tidak menghendaki dari apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, agar kita menyakiti diri kita dan melukai tubuh kita, sebagai simbol pendakian rohani kepada Allah. Tidak, sekali-kali tidak. Melainkan yang Allah kehendaki adalah totalitas ketaatan kita kepada-Nya, dengan penuh keikhlasan, ketenangan, kerelaan dan keyakinan. Karenanya Allah segera menggantinya dengan seekor sembelihan.

Keempat, bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismali dengan sikapnya itu, Allah memberi predikat sebagai seoran “muhsin” (seorang yang berbuat baik), dan siapa saja yang mengikuti jejak nabi Ibrahim, dengan menghadiahkan seekor sembelihan qurban, atas dorongan ketaatan kepada Allah SAW, dan keikhlasannya yang paling dalam, ia akan termasuk kaum “muhsinin” itu.

Sungguh Allah berjanji bagi mereka yang menghadiahkan kebaikan itu limpahan pahala yang agung di sisi-Nya. Maka berbahagialah mereka yang berqurban, dan termasuk dengan qurbannya golongan orang-orang muhsinin. ***

QURBAN MEMBUNUH SIFAT KEBINATANGAN

Oleh : Drs. Ahmad Supardi Hasibuan
http://riau.depag.go.id 

Ibadah Qurban seperti halnya ibadah haji adalah merupakan ibadah yang tidak dapat dilepaspisahkan dengan Nabi Ibrahim as beserta keluarganya dalam hal ini Ismail as, sebab ibadah Qurban ini bermula ketika Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih Ismail.

Nabi Ibrahim hidup sekitar abad ke 18 SM. Pada masanya ini dikenal adanya kutub pemikiran yang berbeda dalam hal korban yang berwujud manusia terhadap yang disembah. Kutub pemikiran yang pertama menyatakan bahwa manusialah yang paling pantas untuk dijadikan korban terhadap sesembahan, sedangkan pada kutub pemikiran yang lain menyatakan bahwa manusia terlalu mulia untuk dijadikan korban.

Ajaran Nabi Ibrahim as memberikan jalan keluar atas kedua kutub pemikiran tersebut, dimana Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as melalui mimpi untuk menyembelih putranya Ismail. Hal ini memberi isyarat bahwa sekalipun anak kandung sendiri, buah hati belahan jiwa, apabila diminta Allah SWT, tidak ada alasan untuk menolaknya sebagai perwujudan ketaqwaan terhadapNya.

 http://fahmina.or.id/id/content/view/136/74/

 “QURBAN”, yang secara etimologi berarti “pendekatan”, mengandung pesan tentang upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mempersembahkan hidup kita untuk perjuangan membela nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kebajikan ibadah qurban bukan terletak pada persembahan daging hewan qurban, melainkan ketakwaan dan ketulusan (QS al-Hajj: 37).

Sejarah pelaksanaan ibadah qurban ini bermula dari pengujian kesetiaan Ibrahim terhadap Tuhannya. Pada usianya yang telah mencapai 85-an tahun, Ibrahim belum dikaruniai keturunan. Sebagai ijabah dari permohonannya,  Tuhan kemudian mengaruniakan seorang keturunan yang kemudian diberi nama Ismail (Tafsir al-Azhar, juz 23: 218). Lima tahun kemudian, Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail. Setelah dimusyawarahkan, kemudian keduanya sepakat bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Tuhan yang harus dilaksanakan. Di akhir kisah, Ismail diganti dengan seekor domba besar yang kemudian disembelih Ibrahim (QS. 37: 100-107).
Sejatinya Ibadah qurban adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois,  mementingkan diri sendiri, rakus dan  serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah swt yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kerja-kerja sosial. Kecintaan pada Allah swt  ditunjukkan Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya Ismail. Sesungguhnya Tuhan  menyuruh Ibrahim menyembelih putranya, yang disampaikan melalui mimpi, di samping ujian keimanan juga sarat pesan-pesan sosial kemanusiaan. Kepekaan sosial, keberpihakan kepada kaum lemah dan dilemahkan (mustadh’afin) adalah nilai sekaligus moral sosial yang terkandung dalam ibadah qurban.
Ibadah qurban hakikatnya mengajarkan kita untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. Karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa (lemah) dan mustadh’afin (dilemahkan) . Di sisi lain ibadah qurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai di sekitar kita.
Perintah berqurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan penting  “bahwa Kita bisa dekat dengan Allah swt hanya ketika Kita bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”. Semangat menyembelih hewan qurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong-menolong antar-anggota masyarakat. Yang kaya menolong si miskin dan sebaliknya yang miskin menolong si kaya. Sikap solidaritas ini diharapkan akan mengurangi kesenjangan sosial dan kondusif bagi pemberdayaan masyarakat.
Meski perayaan ‘idul qurban di rayakan setahun sekali, namun semangat berqurban tersebut seharusnya tidak  hanya muncul ketika datang ‘Idul Adha. Ia harus terus -menerus hidup dalam diri kita. Tentu saja, di luar ‘Idul Adha, berqurban itu tidak harus berbentuk penyembelihan hewan. Ia dapat berupa apa saja yang bisa mendorong terwujudnya masyarakat yang berdaya, bermartabat yang selalu menjunjung nilai-nilai keadilan.
Kita sangat berharap dengan perayaan ‘Idul Adha akan muncul semangat berqurban di masyarakat, apalagi pemerintah. Semangat berqurban ini sangat penting artinya dalam membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera. Makna utama ibadah qurban yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi bagaimana kita bisa saling berbagi dan memberdayakan sesama umat manusia, terutama mereka yang kurang beruntung. Wallahu’alam bi al-shawab.

About Rudi Kurniawan

Knowledge is power, but character is more.
This entry was posted in Lain-lain. Bookmark the permalink.

3 Responses to Haji dan Qurban

  1. Didin says:

    Tradisi yang sepertinya sudah mendarah daging bagi umat islam di dunia ini, namun yang sangat menarik juga tentang qurban kebanyakan lebih mengenal daging qurbannya daripada sejarah, pengetahuan serta asal-usulnya yang mungkin akan merubah keimanan serta pola hidup manusia.

    Ada sebagian oknum dilapangan yang menyantap daging qurban katanya “Oplos” dan dinikmati dengan minuman haram. Naudzubillah.

    Ada yang harus diluruskan karena kebanyakan dari kita lupa, atau mungkin sudah engga peduli apa hakekat qurban yang sebenarnya, Bukan begitu?.

  2. rudem says:

    Wah..Kang Didin rupanya lebih jeli ya. Untuk itulah mestinya kita – walaupun hanya dengan perkataan, atau tulisan- ikut mengingatkan dan menginformasikan kepada umat Islam tentang hakekat qurban itu. Bukan “Pesta pora”-nya yang dikedepankan, tetapi semangat berbagi dan keikhlasan-lah yang mesti ditingkatkan. Benar Tidak??? Salam.

  3. syifa says:

    ya Allah… mudahkanlah agar saya bisa segera ber-qurban…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s