LABA-LABA

Hati-hati kalau pake sepatu tanpa kaos kaki. Kejadian ini saya alami sewaktu pakai sepatu tanpa ‘diketrukkeun’ dulu (diketuk-ketukan supaya benda didalamnya keluar red.)  atau diperiksa dalamannya sewaktu mau pergi kerja. Ternyata tiga jam kemudian, karena ada yang kurang nyaman di sepatu saya, jari-jari kaki saya tarik untuk merasakan apa yang mengganjal. Rupanya semejak dari rumah -entah kapan-, ada laba-laba (lancah-sunda) yang iseng masuk ke sepatu saya dan tidur kali disana. Mungkin saja tergoda sama ‘wanginya’ juga kali ya???. Dan binatang itu terjepit kaki saya sehingga tidak dapat bergerak. Kerika saya gerakkan kaki, disitulah ada kesempatan buat si laba-laba itu bertukar posisi sehingga dengan sangat penuh perasaan jari tengah kaki saya digigitnya. Rasanya seperti ditusuk jarum dengan kecepatan nol koma sekian detik. Jadi sangat terasa sekali sensasinya. Aduuhhhh.. nikmat benerrrr. Begitu saya keluarkan sepatu saya dan diketukkan, maka dengan bangganya binatang kecil nan hitam itu langsung kabur. Tapi tunggu dulu teman saya -mister Hendry- berhasil membalaskan dendam saya. Dipukul pake penggaris dan langsung koit.
Efek gigitannya?  Walhasil jari kaki saya bengkak dan malamnya badan rasanya gatel-gatel serta panas dingin. Pikir saya ada racunnya kali. Tidak ke dokter sih. Cuma minum obat sakit panas dingin saja. Paginya ternyata mulai normal walau masih ada perasaan gatal-gatal.
Begitu diceritain ke teman, weleh bukannya nolongin malahan disangkanya saya akan jadi spiderman… Uh…

Ini dia mahluk yang sudah gigit saya, ga tau laba-laba jenis apa …

Penasaran tentang binatang itu, teryata ini :
Laba-laba, atau disebut juga labah-labah, adalah sejenis hewan berbuku-buku (artropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Semua jenis laba-laba digolongkan ke dalam ordo Araneae; dan bersama dengan kalajengking, kutu, caplak dan kerabatnya –semuanya berkaki delapan– dimasukkan ke dalam kelas Arachnida. Bidang studi mengenai laba-laba disebut arachnologi.

Laba-laba merupakan hewan pemangsa (karnivora), bahkan kadang-kadang kanibal. Mangsa utamanya adalah serangga. Hampir semua jenis laba-laba, dengan perkecualian sekitar 150 spesies dari suku Uloboridae dan Holarchaeidae, dan subordo Mesothelae, mampu menginjeksikan bisa melalui sepasang taringnya kepada musuh atau mangsanya. Meski demikian, dari puluhan ribu spesies yang ada, hanya sekitar 200 spesies yang gigitannya dapat membahayakan manusia.

Tidak semua laba-laba membuat jaring untuk menangkap mangsa, akan tetapi semuanya mampu menghasilkan benang sutera –yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat– dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya. Serat sutera ini amat berguna untuk membantu pergerakan laba-laba, berayun dari satu tempat ke tempat lain, menjerat mangsa, membuat kantung telur, melindungi lubang sarang, dan lain-lain

Morfologi
Tak seperti serangga yang memiliki tiga bagian tubuh, laba-laba hanya memiliki dua. Segmen bagian depan disebut cephalothorax atau prosoma, yang sebetulnya merupakan gabungan dari kepala dan dada (thorax). Sedangkan segmen bagian belakang disebut abdomen (perut) atau opisthosoma. Antara cephalothorax dan abdomen terdapat penghubung tipis yang dinamai pedicle atau pedicellus.

Pada cephalothorax melekat empat pasang kaki, dan satu sampai empat pasang mata. Selain sepasang rahang bertaring besar (disebut chelicera), terdapat pula sepasang atau beberapa alat bantu mulut serupa tangan yang disebut pedipalpus. Pada beberapa jenis laba-laba, pedipalpus pada hewan jantan dewasa membesar dan berubah fungsi sebagai alat bantu dalam perkawinan.

Laba-laba tidak memiliki mulut atau gigi untuk mengunyah. Sebagai gantinya, mulut laba-laba berupa alat pengisap untuk menyedot cairan tubuh mangsanya.

Indera
Mata pada laba-laba umumnya merupakan mata tunggal (mata berlensa tunggal), dan bukan mata majemuk seperti pada serangga. Kebanyakan laba-laba memiliki penglihatan yang tidak begitu baik, tidak dapat membedakan warna, atau hanya sensitif pada gelap dan terang. Laba-laba penghuni gua bahkan ada yang buta. Perkecualiannya terdapat pada beberapa jenis laba-laba pemburu yang mempunyai penglihatan tajam dan bagus, termasuk dalam mengenali warna.

Untuk menandai kehadiran mangsanya pada umumnya laba-laba mengandalkan getaran, baik pada jaring-jaring suteranya maupun pada tanah, air, atau tempat yang dihinggapinya. Ada pula laba-laba yang mampu merasai perbedaan tekanan udara. Indera peraba laba-laba terletak pada rambut-rambut di kakinya

Pemangsaan
Kebanyakan laba-laba memang merupakan predator (pemangsa) penyergap, yang menunggu mangsa lewat di dekatnya sambil bersembunyi di balik daun, lapisan daun bunga, celah bebatuan, atau lubang di tanah yang ditutupi kamuflase. Beberapa jenis memiliki pola warna yang menyamarkan tubuhnya di atas tanah, batu atau pepagan pohon, sehingga tak perlu bersembunyi.

Laba-laba penenun (misalnya anggota suku Araneidae) membuat jaring-jaring sutera berbentuk kurang lebih bulat di udara, di antara dedaunan dan ranting-ranting, di muka rekahan batu, di sudut-sudut bangunan, di antara kawat telepon, dan lain-lain. Jaring ini bersifat lekat, untuk menangkap serangga terbang yang menjadi mangsanya. Begitu serangga terperangkap jaring, laba-laba segera mendekat dan menusukkan taringnya kepada mangsa untuk melumpuhkan dan sekaligus mengirimkan enzim pencerna ke dalam tubuh mangsanya.

Sedikit berbeda, laba-laba pemburu (seperti anggota suku Lycosidae) biasanya lebih aktif. Laba-laba jenis ini biasa menjelajahi pepohonan, sela-sela rumput, atau permukaan dinding berbatu untuk mencari mangsanya. Laba-laba ini dapat mengejar dan melompat untuk menerkam mangsanya.

Bisa yang disuntikkan laba-laba melalui taringnya biasanya sekaligus mencerna dan menghancurkan bagian dalam tubuh mangsa. Kemudian perlahan-lahan cairan tubuh beserta hancuran organ dalam itu dihisap oleh si pemangsa. Berjam-jam laba-laba menyedot cairan itu hingga bangkai mangsanya mengering. Laba-laba yang memiliki rahang (chelicera) kuat, bisa lebih cepat menghabiskan makanannya dengan cara merusak dan meremuk tubuh mangsa dengan rahang dan taringnya itu. Tinggal sisanya berupa bola-bola kecil yang merupakan remukan tubuh mangsa yang telah mengisut.

Beberapa laba-laba penenun memiliki kemampuan membungkus tubuh mangsanya dengan lilitan benang-benang sutera. Kemampuan ini sangat berguna terutama jika si mangsa memiliki alat pembela diri yang berbahaya, seperti lebah yang mempunyai sengat; atau jika laba-laba ingin menyimpan mangsanya beberapa waktu sambil menanti saat yang lebih disukai untuk menikmatinya belakangan

Keragaman Jenis
Hingga sekarang, sekitar 40.000 spesies laba-laba telah dipertelakan, dan digolong-golongkan ke dalam 111 suku. Akan tetapi mengingat bahwa hewan ini begitu beragam, banyak di antaranya yang bertubuh amat kecil, seringkali tersembunyi di alam, dan bahkan banyak spesimen di museum yang belum terdeskripsi dengan baik, diyakini bahwa kemungkinan ragam jenis laba-laba seluruhnya dapat mencapai 200.000 spesies.

Ordo laba-laba ini selanjutnya terbagi atas tiga golongan besar pada aras subordo, yakni:

Mesothelae, yang merupakan laba-laba primitif tak berbisa, dengan ruas-ruas tubuh yang nampak jelas; memperlihatkan hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan leluhurnya yakni artropoda beruas-ruas.
Mygalomorphae atau Orthognatha, yalah kelompok laba-laba yang membuat liang persembunyian, dan juga yang membuat lubang jebakan di tanah. Banyak jenisnya yang bertubuh besar, seperti tarantula dan juga lancah maung.
Araneomorphae adalah kelompok laba-laba ‘modern’. Kebanyakan laba-laba yang kita temui termasuk ke dalam subordo ini, mengingat bahwa anggotanya terdiri dari 95 suku dan mencakup kurang lebih 94% dari jumlah spesies laba-laba. Taring dari kelompok ini mengarah agak miring ke depan (dan bukan tegak seperti pada kelompok tarantula) dan digerakkan berlawanan arah seperti capit dalam menggigit mangsanya.

Sumber by : T!T!~ch@/\/09-10-2006, 02:01 PM
http://indoforum.org/archive/index.php/t-7175.html

Teori Laba-laba Dalam Film Spider-man
Taufiq (Klub Astronomi Bondowoso)

Sekuel film Spider-Man (Manusia Laba-laba) yang diluncurkan belum lama ini memaksa kita untuk mengagumi laba-laba, binatang yang menyebabkan sang hero menjadi begitu hebat karena memiliki kemampuan seperti laba-laba. Dengan benang berbentuk jaring yang dikeluarkan dari telapak tangannya, pahlawan ini mampu bergelantungan dari gedung ke gedung dan menaklukkan musuh.

Dalam kenyataannya, laba-laba mengeluarkan benang (lebih tipis dari rambut manusia dan lebih ringan dari kapas) bukan sekadar untuk bergelantungan dan menjerat mangsanya, tetapi juga untuk membuat sarang berbentuk jaring (spider web) sekaligus tempat untuk menjebak mangsa. Sarang itu dibuat dalam waktu sekitar satu jam atau lebih.

Senang laba-laba itu ternyata lima kali lebih kuat dari baja dengan ketebalan sama dan memiliki gaya tegang 150 ribu kilogram per meter persegi. Seandainya berdiameter 30 cm, benang itu akan mampu menahan berat 150 mobil! Kehebatan benang tersebut telah menginspirasi ilmuwan untuk membuat jaket antipeluru dari bahan yang dinamakan Kevlar (hanya 1/10 kekuatan benang laba-laba).

Di Bumi terdapat lebih dari 37.000 spesies laba-laba yang memiliki sarang berpola khusus, beragam, dan kompleks. Dari banyaknya ragam bentuk sarang, ternyata ada pola sederhana bagaimana sarang itu dibuat.

Model pendekatan

Ada tiga komponen yang membentuk sarang laba-laba, yaitu benang jenis kuat dan tegang yang mengarah ke luar (radial threads) yang berpotongan pada titik pusat sebagai porosnya (hub), benang yang menjadi kerangka bagian luar sarang (frame threads), dan benang jenis kendur dan lengket berbentuk spiral yang mampu menjebak mangsa (capture radial).

Sarang dibuat dengan diawali pola “Y” dari benang horizontal dan sebuah benang vertikal di titik sembarang yang menjadi poros. Lalu, dibuat beberapa benang vertikal dari poros itu sehingga diperoleh kerangka yang stabil. Selanjutnya, laba-laba akan membuat kerangka bagian luar sarang. Setelah itu, laba-laba akan kembali ke poros dan membuat pola spiral yang menghubungkan masing-masing benang radial.

Ada dua jenis pola spiral. Pertama, temporary spiral, yaitu gerakan spiral yang berfungsi hanya sebagai pemandu sebelum membuat sarang. Dalam hal ini laba-laba tidak mengeluarkan benang. Kedua, capture spiral, yaitu gerakan spiral untuk membuat sarang yang diawali dengan gerakan berpola “U” terlebih dahulu sebelum mengeluarkan benang. Capture spiral ini dilakukan melalui kerangka bagian luar ke poros dan sebaliknya setelah melalui gerakan balik arah (switchback).

Pengamatan laboratorium

Samuel Zschokke, seorang ahli konservasi biologi, merekam melalui video aktivitas laba-laba jenis cross spider (Araneus diadematus) dalam membuat sarangnya di laboratorium. Kemudian membuat sketsa tahap-tahap penting.

Garis panah menunjukkan arah gerak laba-laba. Garis panah abu-abu menunjukkan jejak, dan semakin gelap memperlihatkan gerak yang akan dituju. Benang yang telah dibuat ditunjukkan oleh garis utuh, sedangkan posisi benang yang akan dibuat ditunjukkan dengan garis putus-putus.

Seluruh proses ini dikerjakan dalam waktu sekitar satu jam atau lebih. Waktu yang sangat pendek untuk membuat “rumah” yang nyaman dan kuat. Juga mengerikan buat mangsa yang terjebak.


laba-laba membuat benang pertama yang menghubungkan dua titik. Dari titik awal berangkatnya ke tempat seberang.
laba-laba membuat benang lagi ke tempat yang lebih tinggi dari benang pertama.
benang pada B dihubungkan pada sebuah titik di benang pertama. Titik inilah yang kemudian dijadikan poros (proto-hub). Melalui poros inilah dibuat beberapa benang sehingga diperoleh struktur yang cukup stabil (proto-radii).
setelah diperoleh beberapa jari (tiga-tujuh buah jari), laba-laba mulai membuat kerangka luar sarang.
sambil membuat kerangka luar, laba-laba juga menyempurnakan jumlah jari-jari sarang. Jadi, akhirnya dihasilkan kerangka sarang meliputi kerangka luar dan jari-jari yang stabil.
laba-laba kembali ke poros dan mulai membuat struktur sarang berbentuk spiral (capture spiral) dari pusat ke arah luar.
laba-laba berbalik arah (switchback) ketika spiralnya menyentuh pinggir kerangka luar sarang.
kembali menuju poros, laba-laba membentuk capture spiral-nya hingga secara keseluruhan kerangkanya selesai dengan sempurna.
Sumber : Kompas (13 Agustus 2004)

About Rudi Kurniawan

Knowledge is power, but character is more.
This entry was posted in Lain-lain. Bookmark the permalink.

12 Responses to LABA-LABA

  1. Toto Suharto says:

    “… Begitu diceritain ke teman, weleh bukannya nolongin malahan disangkanya saya akan jadi spiderman… Uh…”

    Hahaha, setuju… Ditunggu sequel Spiderman 4 nya….

  2. Rudi says:

    😀 Tapi efek sok hoyong ‘kakarayapan’ mah sigana aya tah mas…. Mung duka ngarayap kana naon tah?

  3. neng®atna says:

    sialan juga tuh laba-laba ya om!

  4. Rudi says:

    Neng Ratna pernah digigit juga gitu?

  5. NieCha-chan says:

    laba-laba emang keren bgt. aku sampe nulis karya ilmiah tentang laba-laba

  6. Rudi says:

    Wah…alhi tentang laba-laba dong. Selamat berkarya terus ya… Salam.

  7. wandy says:

    wahhh..
    wahhh…

  8. Pingback: Pembunuh Beracun yang Bermanfaat | dusunlaman

  9. viqih says:

    Jijik.!!!!!!!!!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s