Kereta Api

  

Hari Rabu, 14 Mei 2008 saya ditugaskan sendirian untuk ke Jakarta menghadiri acara Grand Launcing LSP Telematika di Gedung Menkominfo Jl. Medan Merdeka Barat. Satu hal yang langsung tersirat dalam benak saya yaitu … walah…teu apal euy dimana tempatna???  Setelah cari info diputuskan pake Kereta Api saja karena lokasinya katanya deket dengan Stasiun Gambir. Ya sudah saya putuskan saja ikut nasihat teman untuk naik kereta. Biasanya emang saya diantar supir tahunya berangkat dan tiba di tempat. Wah…ini

pengalaman baru juga karena dari tahun 1993, setelah 15 tahun baru saya naik kereta api lagi. Benar aja setelah sampai stasiun kota Bandung saya celengak celinguk – tanya satpam dan lihat di Papan Pengumuman ada dua kereta Argo Gede dan Parahyangan. Karena acara akan berlangsung jam 9 pagi, jadi saya putuskan untuk pesen tiket yang berangkat jam 05 pagi KA Parahyangan. Murah cuman 35ribu untuk kelas eksekutif, 20rb Bisnis. Katanya dulu sih 50 rb. Untuk Argo cuman beda 10rb.

Pagi-pagi saya bangun pukul 4 pagi. Setelah persiapan langsung cabut pake motor. Parkir nginap 1×24 jam 7.500 perak. Ya udah ditinggal aja. He..he.. kaya anak kecil juga padahal sudah kepala empat nih… Perasaan saya sangat senang. Segala dilihat dan diteliti. Ternyata kereta kita kurang pemeliharaan kebersihan dan fasilitasnya ya. Terbukti banyak kaca yang retak -karena dilempar orang- tidak diganti. Lis kaca dibeberapa bagian sudah berkarat. Jok tempat duduk sudah kumal dan dudukannya sudah kurang mantap lagi. Rada-rada reyot gitu. WC juga bau. Gimana nih Perumka???

Sesampai di Gambir tepat waktu jam 8.00, kembali saya celingukan. Naik Taksi apa naik Ojek ya? Eh ternyata yang duluan menyapa tukang ojek. Deal deh 10rebu. Bener cepet naik ojek. Selempat selempit ga sampai 10 menit dah nyampe di lokasi. Dan hebatnya mas Tukang Ojek ( namanya Toto – dari Kuningan ) memberikan no HP-nya seraya menawarkan jasa jemputan. Ya tentu saja saya mau. Deal deh 30rb antar jemput ojek.

Asiknya pada saat pulang ketemu kawan… Perjalanan saya jadi terasa lebih nikmat.

Oya… omong-omong sejarah kereta api di Indonesia, ada di bawah ini :

Awal Mula Sejarah Kereta Api (1)
NAMA Lawang Sewu memang tak asing lagi bagi warga Kota Semarang. Bangunan bersejarah tersebut merupakan salah satu tetenger kota, selain Tugu Muda, Museum Mandala Bhakti, Pasar Bulu, dan Balai Kota.

Namun Lawang Sewu tak hanya terkait dengan peristiwa heroik pertempuran lima hari. Lebih dari itu, bangunan unik tersebut tak bisa terlepas dari sejarah perkeretapian di Indonesia. Menurut rangkuman sejarah yang disusun PT KA, semula Lawang Sewu milik NV Nederlandsch Indische Spoorweg Mastshappij (NIS), yang merupakan cikal bakal perkeretapian di Indonesia. Saat itu ibu kota negeri jajahan ini memang berada di Jakarta. Namun pembangunan kereta api dimulai di Semarang.

Jalur pertama yang dilayani saat itu adalah Semarang – Yogyakarta. Pembangunan jalur itu dimulai 17 Juni 1864, ditandai dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Sloet van Den Beele. Tiga tahun kemudian, yaitu 19 Juli 1868 kereta api yang mengangkut penumpang umum sudah melayani jalur sejauh 25 km dari Semarang ke Tanggung.

Butuh Kantor

Dengan beroperasinya jalur tersebut, NIS membutuhkan kantor untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan administratif. Lokasi yang dipilih kemudian adalah di ujung Jalan Bojong (kini Jalan Pemuda). Lokasi itu merupakan perempatan Jalan Pandanaran, Jalan Dr Soetomo, dan Jalan Siliwangi (kini Jalan Soegijapranata).

Saat itu arsitek yang mendapat kepercayaan untuk membuat desain adalah Ir P de Rieau. Ada beberapa cetak biru bangunan itu, antara lain A 387 Ned. Ind. Spooweg Maatschappij yang dibuat Februari 1902, A 388 E Idem Lengtedoorsnede bulan September 1902, dan A 541 NISM Semarang Voorgevel Langevlenel yang dibuat tahun 1903. Ketiga cetak biru tersebut dibuat di Amsterdam. Namun sampai Sloet Van Den Beele meninggal, pembangunan gedung itu belum dimulai. Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Prof Jacob K Klinkhamer di Delft dan BJ Oudang untuk membangun gedung NIS di Semarang dengan mengacu arsitektur gaya Belanda.

Lokasi yang dipilih adalah lahan seluas 18.232 meter persegi di ujung Jalan Bojong, berdekatan dengan Jalan Pandanaran dan Jalan Dr Soetomo. Tampaknya posisi itu kemudian mengilhami dua arsitektur dari Belanda tersebut untuk membuat gedung bersayap, terdiri atas gedung induk, sayap kiri, dan sayap kanan.

Diurug Pasir

Sebelum pembangunan dilakukan, calon lokasi gedung tersebut dikeruk sedalam 4 meter. Selanjutnya galian itu diurug dengan pasir vulkanik yang diambil dari Gunung Merapi. Pondasi pertama dibuat 27 Februari 1904 dengan konstruksi beton berat dan di atasnya kemudian didirikan sebuah dinding dari batu belah. Semua material penting didatangkan dari Eropa, kecuali batu bata, batu gunung, dan kayu jati.

Setiap hari ratusan orang pribumi menggarap gedung ini. Lawang Sewu resmi digunakan tanggal 1 Juli 1907. Dalam perkembangannya, Lawang Sewu juga terkait dengan sejarah pertempuran lima hari di Semarang yang terpusat di kawasan proliman (Simpanglima) yang saat ini dikenal sebagai Tugu Muda. Pada peristiwa bersejarah yang terjadi 14 Agustus 1945 – 19 Agustus 1945 itu, gugur puluhan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA). Lima di antaranya dimakamkan di halaman depan Lawang Sewu. Mereka adalah Noersam, Salamoen, Roesman, RM Soetardjo, dan RM Moenardi. Kereta api kemudian menyerahkan halaman depan seluas 3.542,40 meter persegi pada Pemda Kodya Semarang. Sedangkan makam lima jenasah di halaman itu, 2 Juli 1975 dipindah ke Taman Makam

Pahlawan Giri Tunggal dengan Inspektur Upacara Gubernur Jateng Soepardjo Roestam. Kini lahan gedung Lawang Sewu tinggal 14.689,60 meter per segi. (Purwoko Adi Seno, Arie Widiarto-63)

Sumber: Suara Merdeka, Senin, 29 Maret 2004
http://www.arsitekturindis.com/index.php/archives/2004/03/29/awal-mula-sejarah-kereta-api/

AWAL KEHADIRAN KERETA API DI INDONESIA (2)

Kereta api mulai diperkenalkan di Indonesia, pada masa penjajahan Belanda, oleh sebuah perusahaan swasta NV. Nederlandsch Indische Spoorweg Mij (NISM), tahun 1864. Jalur kereta api pertama dibangun pada 17 Juni 1864. Yakni jalur Kemijen-Tanggung, Semarang, sepanjang 26 Km. Diresmikan oleh Gubernur Jenderal L.A.J Baron Sloet Van Den Beele. Tanggal 18 Februari 1870, NISM membangun jalur umum Semarang-Solo- Yogyakarta.

Tanggal 10 April 1869 Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Staats Spoorwegen (SS) dan membangun lintasan Batavia-Bogor. Tanggal 16 Mei April 1878, perusahaan negara ini membuka jalur Surabaya-Pasuruan-Malang, dan 20 Juli 1879 membuka jalur Bangil-Malang. Pembangunan terus berjalan hingga ke
kota-kota besar seluruh Jawa terhubung oleh jalur kereta api. Di luar Jawa, 12 Nopember 1876, Staats Spoorwegen juga membangun jalur Ulele-Kutaraja (Aceh). Selanjutnya lintasan Palu Aer-Padang (Sumatera Barat) pada Juli 1891, lintasan Telukbetung-Prabumulih (Sumatera Selatan) tahun 1912, dan 1 Juli 1923 membangun jalur Makasar-Takalar (Sulawesi). Di Sumatera Utara, NV. Deli Spoorweg Mij juga membangun lintasan Labuan-Medan pada 25 Juli 1886.

Pada masa pemerintahan Hindi Belanda, selain Staats Spoorwegen milik pemeriontah, sudah ada 11 perusahaan kereta api swasta di Jawa dan satu perusahaan swasta di Sumatera. Perusahaan-perusahaan kereta api swasata pada masa penajajahan adalah:

  • NV. Nederlandsch Indische Spoorweg Mij.
  • NV. Semarang Cheribon Spoorweg Mij.
  • NV. Joana Stoomtram Mij..
  • NV. Serajoe Dal Stoomtram Mij.
  • NV. Oost Java Stoomtram Mij.
  • NV. Kediri Stoomtram Mij.
  • NV. Modjokerto Stoomtram Mij.
  • NV. Malang Stoomtram Mij.
  • NV. Paasuruan Stoomtram Mij.
  • NV. Probolonggo Stoomtram Mij.
  • NV. Madoera Stoomtram Mij.
  • NV. Deli Spoorweg Mij.

KERETA API DI MASA PENJAJAHAN

Setelah NV Nederlandch Indische Spoorweg Mij (NISM) membangun jalan kereta antara desa Kemijen di Semarang dengan Tanggung yang mulai dilalui kereta tanggal 17 Juni 1868, belum didapat kepastian, pihak mana yang harus melakukan pembangunan jalan kereta itu. Sementara swasta selalu berinisiatif untuk membangun jalan kereta sesuai bisnisnya. Hal ini terbukti dengan hadirnya 11 perusahaan kereta api milik swasta di Jawa dan 1 di Sumatera.

Dalam perkembangan setelah jalan kereta swasta berkembang luas, ditetapkan bahwa pembangunan jalan kereta adalah tanggung jawab pemerintah, yang dikoordinir oleh Gubernur Jenderal setelah mendapat konsesi dari Ratu Wilhelmina.

Berdasarkan surat Raja Djawa, 28 Mei 1842, diusulkan agar periode 1842–1862 persiapan pemasangan jaringan jalan rel dari Semarang ke Kedu dan beberapa wilayah Kerajaan di Jawa dapat dilakukan. Dalam aturan tersebut ditetapkan pula bahwa gerbong-gerbong untuk pengangkutan ditarik oleh kerbau, sapi,
atau kuda. Belum direncanakan penarikan oleh lokomotip sebagaimana lazimnya kereta api sekarang. Usulan Raja Djawa ini tidak dipenuhi pada tahun 1846 Gubernur Jenderal Rochussen mengusulkan kepada Kerajaan Belanda agar menolak usulan tersebut. Selanjutnya diusulkan untuk penyediaan dana pemasangan rel
di lintas Batavia–Bogor. Namun, tahun 1851, Gubernur Jenderal Duymer van Twist meminta Kerajaan Belanda untuk mempertimbangkan kembali pemberian konsesi pembangunan jalan rel kereta kepada swasta. Akhirnya tahun 1857 didapat prinsip bahwa pembangunan jalan rel bisa dilakukan lagi oleh swasta.

Tahun 1871 Bose, salah seorang penentang pembangunan jalan kereta swasta, menyusun RUU pemasangan jalan rel kereta api negara. Tapi RUU itu tak pernah muncul ke permukaan, karena Menteri Transportasi Belanda Fransen van der Putte menariknya. RUU pemasangan rel lintas Surabaya–Pasuruan dengan
simpangan di Bangil dan Malang diusulkan Menteri Urusan Daerah Jajahan Mr. Baron van Golstein. Tanggal 6 April 1875, pemerintah Hindia Belanda menyatakan tanggal tersebut sebagai awal kehadiran kereta api pemerintah di tanah jajahan yang diurus oleh suatu jawatan dipimpin oleh seorang Inspektur
Jenderal.

Tanggal 1 Maret 1885 Jawatan ini dihapus dan digabung dengan Departemen van BOW atau Pekerjaan Umum. Dan 1 Juli 1909, Jawatan Kereta Api dan Tram Negara digabung dengan Departemen Perusahaan Negara (Gouvernement Bedrijven) yang dipimpin seorang Kepala Inspektur.

Tanggan 1 Nopember 1917, kembali terjadi strukturisasi, sehingga dalam Jawatan Kereta Api terdapat beberapa bagian yang masing-masing bagian dipimpin Kepala Bagian. Kepala Jawatan Kereta Api dan Tram dipimpin Direktur Perusahaan Negara yang memegang pimpinan dalam pemasangan, persediaan dan
lingkungan eploitasi jalan kereta dan tram. Sementara pengawasan umum terhadap kereta dan tram ditangani oleh Jawatan tersendiri. Sejak itu Jawatan yang menangani pengawasan umum telah melakukan pengawasan terhadap perusahaan kereta api milik pemerintah dan swasta. Pimpinan Jawatan yang
mengawasi keseluruhan ini disebut Kepala Dinas Pengawasan Kereta Api dan Tram yang bernaung di bawah Departemen Perusahaan Negara.

Tanggal 15 Maret 1924, ketika Kepala Inspektur Dinas Pengawsan Kereta Api dan Tram dipimpin oleh Ir Staargaard, dengan seijin Pemerintah Belanda melakukan pembagian wilayah pengawasan menjadi tiga: Eksploitasi Barat, Tengah, dan Timur. tapi pada awal pelaksanaannya Kepala Eksploitasi hanya
sekedar pelaksana saja, yang tunduk kepada Kepala Inspektur di Bandung.

Tanggal 1 April 1934, kembali dilakukan reorganisasi dan restrukturisasi lagi yang diarahkan untuk menekan anggran operasi. Dengan begitu Kepala Eksploitasi memiliki kewenangan manajemen secara penuh.

Sumber :

Mosaik Perjuangan Kereta Api, Perusahaan Kereta Api, Bandung, 1995
Boekoe Peringatan dari Staatsspoor & Tramwegen hindia Belanda 1875—1925,
Topografische Inrichting Weltevreden, 1925

Sejarah Kereta Api Indonesia (3)

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan

perusahaan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari Jepang.

Pada tanggal 28 September 1945, pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya menegaskan bahwa mulai hari itu kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsa Indonesia sehingga Jepang sudah tidak berhak untuk mencampuri urusan perkeretaapian di Indonesia.

Inilah yang melandasi ditetapkannya tanggal 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api serta dibentuknya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI).

Nama DKARI kemudian diubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA). Nama itu diubah lagi menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada tanggal 15 September 1971. Pada tanggal 2 Januari 1991, nama PJKA secara resmi diubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) dan semenjak tanggal 1 Juni 1999 diubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero) sampai sekarang.

Dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_Api_(perusahaan)#Kelas_Argo

Kerata dulu dan kini :

  

About Rudi Kurniawan

Knowledge is power, but character is more.
This entry was posted in Hari Lepas Hari, Lain-lain. Bookmark the permalink.

4 Responses to Kereta Api

  1. Ludy Hartono says:

    saya warga kota kisaran di sumatra utara, rasanya menarik sekali menaiki kereta api, cuma, untuk perlintasannya tidak sepanjang di jawa, mungkin pembangunannya ke depan bisa sampai ke sumatra barat, riau, dan provinsi lainnya.

    • Rudi says:

      Betul Bang, ada kesenangan sendiri menaiki jenis kendaraan masal ini. Ya mudah-mudahan perkereta apian di negara kita semakin canggih dan profesional. Tidak hanya di Jawa tapi di daerah-daerah lain di seluruh wilayah Indonesia.

  2. Bambang Hadi Triono says:

    mari kita telusuri tram di wilayah malang yang kiranya belum terjamah antara mlj – bmg dan bmg – tmg- mlk – dpt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s